WALISONGO (SUNAN BONANG)

“Walisongo” berarti sembilan orang wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.
Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua. Sunan Ampel adalah anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.
Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha

Maulana Malik Ibrahim
(Wafat 1419)

Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi.
Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.
Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.

Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.
Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.
Sunan Ampel

pada masa kecilnya bernama Raden Rahmat, dan diperkirakan lahir pada tahun 1401 di Champa. Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja. Pendapat lain, Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa. Menurut beberapa riwayat, orangtua Sunan Ampel adalah Ibrahim Asmarakandi yang berasal dari Champa dan menjadi raja di sana.
Ibrahim Asmarakandi disebut juga sebagai Maulana Malik Ibrahim. Ia dan adiknya, Maulana Ishaq adalah anak dari Syekh Jumadil Qubro. Ketiganya berasal dari Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah. http://en.wikipedia.org/wiki/Samarkand
Silsilah
.Sunan Ampel @ Raden Rahmat @ Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
.Maulana Malik Ibrahim @ Ibrahim Asmoro bin
.Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Khan bin
.Ahmad Jalaludin Khan bin
.Abdullah Khan bin
.Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin
.Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
.Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)
.Ali Kholi’ Qosam bin
.Alawi Ats-Tsani bin
.Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
.Alawi Awwal bin
.Ubaidullah bin
.Ahmad al-Muhajir bin
.Isa Ar-Rumi bin
.Muhammad An-Naqib bin
.Ali Uradhi bin
.Ja’afar As-Sodiq bin
.Muhammad Al Baqir bin
.Ali Zainal ‘Abidin bin
.Imam Hussain
Al-Husain putera Ali bin Abu Tholib dan Fatimah Az-Zahro binti Muhammad Rasulullah.
Jadi, Sunan Ampel memiliki darah Uzbekistan dan Champa dari sebelah ibu. Tetapi dari ayah leluhur mereka adalah keturunan langsung dari Ahmad al-Muhajir, Hadhramaut. Bermakna mereka termasuk keluarga besar Saadah BaAlawi.
Sejarah dakwahnya
Syekh Jumadil Qubro, dan kedua anaknya, Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak bersama sama datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka berpisah, Syekh Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam Selatan (http://en.wikipedia.org/wiki/Champa) , dan adiknya Maulana Ishak mengislamkan Samudra Pasai.
Di Kerajaan Champa, Maulana Malik Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Champa, yang akhirnya merubah Kerajaan Champa menjadi Kerajaan Islam. Akhirnya dia dijodohkan dengan putri Champa, dan lahirlah Raden Rahmat. Di kemudian hari Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa tanpa diikuti keluarganya.
Sunan Ampel datang ke pulau Jawa pada tahun 1443, untuk menemui bibinya, Dwarawati. Dwarawati adalah seorang putri Champa yang menikah dengan raja Majapahit yang bernama Prabu Kertawijaya.
Sunan Ampel menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri seorang adipati di Tuban yang bernama Arya Teja. Mereka dikaruniai 4 orang anak, yaitu: Putri Nyai Ageng Maloka, Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan seorang putri yang kemudian menjadi istri Sunan Kalijaga.
Pada tahun 1479, Sunan Ampel mendirikan Mesjid Agung Demak.
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Ampel“
Kategori: Walisongo • Kelahiran 1401 • Kematian 1481

Sunan Bonang

Dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra
Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Jepara.
Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makamnya berada di kota Gresik.

Silsilah
.Sunan Bonang @ Ibrahim Makdum bin
.Sunan Ampel @ Raden Rahmat @ Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
.Maulana Malik Ibrahim bin
.Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Khan bin
.Ahmad Jalaludin Khan bin
.Abdullah Khan bin
.Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin
.Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
.Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)
.Ali Kholi’ Qosam bin
.Alawi Ats-Tsani bin
.Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
.Alawi Awwal bin
.Ubaidullah bin
.Ahmad al-Muhajir bin
.Isa Ar-Rumi bin
.Muhammad An-Naqib bin
.Ali Uradhi bin
.Ja’afar As-Sodiq bin
.Muhammad Al Baqir bin
.Ali Zainal ‘Abidin bin
.Imam Hussain
Al-Husain putera Ali bin Abu Tholib dan Fatimah Az-Zahro binti Muhammad Rasulullah.
Karya Sastra
Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr. Sunan Bonang juga menggubah tembang Tombo Ati yang kini masih sering dinyanyikan orang.
Apa pula sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa yang dahulu diperkirakan merupakan karya Sunan Bonang dan oleh ilmuwan Belanda seperti Schrieke disebut Het Boek van Bonang atau buku (Sunan) Bonang. Tetapi oleh G.W.J. Drewes, seorang pakar Belanda lainnya, dianggap bukan karya Sunan Bonang, melainkan dianggapkan sebagai karyanya.
Keilmuan
Sunan Bonang juga terkenal dalam hal ilmu kebathinannya. Beliau mengembangkan ilmu (dzikir) yang berasal dari Rasullah SAW, kemudian beliau kombinasi dengan kesimbangan pernafasan yang disebut dengan rahasia Alif Lam Mim ( ا ل م ) yang artinya hanya Allah SWT yang tahu. Sunan Bonang juga menciptakan gerakan-gerakan fisik atau jurus yang Beliau ambil dari seni bentuk huruf Hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf dimulai dari huruf Alif dan diakhiri huruf Ya’. Beliau menciptakan Gerakan fisik dari nama dan simbol huruf hijayyah adalah dengan tujuan yang sangat mendalam dan penuh dengan makna, secara awam penulis artikan yaitu mengajak murid-muridnya untuk menghafal huruf-huruf hijaiyyah dan nantinya setelah mencapai tingkatnya diharuskan bisa baca dan memahami isi Al-Qur’an. Penekanan keilmuan yang diciptakan Sunan Bonang adalah mengajak murid-muridnya untuk melakukan Sujud atau Sholat dan dzikir. Hingga sekarang ilmu yang diciptakan oleh Sunan Bonang masih dilestarikan di Indonesia oleh generasinya dan diorganisasikan dengan nama Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia
Referensi
• B.J.O. Schrieke, 1916, Het Boek van Bonang, Utrecht: Den Boer
• G.W.J. Drewes, 1969, The admonitions of Seh Bari : a 16th century Javanese Muslim text attributed to the Saint of Bonang, The Hague: Martinus Nijhoff
Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Bonang“

Kearifan Dari Seorang Wali

Judul: Mistik Dan Makrifat Sunan Kalijaga
Penulis: Achmad Chodjim
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan II: Juni 2004
Halaman: 310 halaman
Rumekso Ing Wengi boleh jadi tak ditemukan dalam doa-doa yang pernah diajarkan seperti dalam hadits-hadits Nabi. Tetapi, bukankah doa bisa disampaikan dalam bahasa apa saja. Apakah dengan begitu, ajaran Sunan Kalijaga ini dianggap bid’ah? Bagaimana dengan Gerebeg Maulud dan Sekaten? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang perlu kearifan untuk menjawabnya.
Sunan Kalijaga bukan tokoh yang asing lagi di telinga umat
Islam di Nusantara. Nama kecilnya Raden Syahid,
merupakan salah satu Walisanga yang populer di Tanah Jawa.
Sunan Kalijaga sekaligus merupakan satu di antara tokoh Walisanga yang menjadi penghubung antara pandangan Islam dengan budaya Jawa.
Namun demikian, tak banyak orang yang tahu tentang ajaran yang dibawa. Umumnya orang mengenal lewat kidung atau tembang. Di antaranya tembang Ilir-ilir yang cukup populer di kalangan anak-anak.
Sunan Kalijaga terlahir dari kalangan ningrat (darah biru) yang serba berkecukupan dari materi maupun pendidikan. Ia adalah putra Tumenggung Wilatikta (Aria Teja IV), seorang Adipati di Tuban.
Aria Teja IV sendiri adalah keturunan Adipati Ronggolawe, salah satu tokoh pendiri Kerajaan Majapahit yang kemudian mendapat kedudukan sebagai adipati di Tuban.
Tetapi, alih-alih mewarisi jabatan yang empuk dari ayahandanya, Raden Syahid justru memilih menjadi pegiat spiritual Islam di Tanah Jawa.
Harta dan tahta yang sudah ada di depan mata justru membuat Raden Syahid hidup dengan penuh kegalauan. Raden Syahid merasa risau melihat ketidakadilan dan penindasan terjadi di mana-mana.
Itu terjadi setelah Kerajaan Majapahit yang secara sosial politik dan budaya banyak mengalami kemunduran. Keadaan seperti ini menjadikan para pejabat negara banyak bergelimang harta dan berfoya-foya, dari hasil upeti rakyat.
Hati nurani Raden Syahid tidak tahan melihat penderitaan rakyat Tuban seperti itu, diperas dan ditindas untuk kepentingan para pejabat negara. Apalagi pada saat itu sedang terjadi kemarau panjang.
Secara diam-diam, Raden Syahid membobol gudang perbekalan. Hasil curiannya kemudian dibagi-bagikan kepada rakyat miskin. Tindakan ini dilakukan berkali-kali.
Perbuatan ini pada awalnya tidak diketahui penjaga di kadipaten. Tetapi, setelah diselidiki, perbuatan tadi ternyata dilakukan Raden Syahid yang juga pewaris tahta Kadipaten Tuban.
Tindakan ini membuat ayahanda Raden Syahid malu. Ayahnya marah besar, sehingga mengusir Raden Syahid keluar dari wilayah Kadipaten Tuban.
Raden Syahid akhirnya keluar dan memilih menjadi penyamun. Ia memimpin segerombolan perampok, menghadang orang-orang kaya dan pejabat negara yang korup.
Anehnya, hasil rampokan itu tidak digunakan untuk dirinya, tetapi dibagi-bagikan kepada rakyat miskin. Kisah ini mirip dengan tokoh Robin Hood dalam sebuah cerita film.
Suatu ketika, Raden Syahid bertemu dengan Sunan Bonang, penyebar Islam di kawasan pantai utara Jawa. Semula, Raden Syahid ingin merampok. Namun karena kesaktian Sunan Bonang, Raden Syahid akhirnya tunduk. Ia menaruh hati dengan ilmu yang dimiliki Sunan Bonang. Lewat Sunan Bonang pula, Raden Syahid sadar bahwa niat baik yang dilakukan selama ini caranya tidak benar.
Raden Syahid akhirnya menjadi murid Sunan Bonang. Ia kemudian disuruh bertapa, bersemedi di pinggir sebuah kali (sungai) untuk beberapa waktu. Raden Syahid seperti berjaga di kali. Dari kisah ini kemudian muncul sebutan Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga mampu mewarisi ilmu dari Sunan Bonang. Ia juga berguru ke Pasai, berdakwah ke Semenanjung Malaya hingga wilayah Patani di Thailand Selatan.
Dalam Hikayat Patani, Raden Syahid dikenal sebagai seorang tabib, pernah mengobati Raja Patani yang menderita sakit kulit hingga sembuh. Di wilayah itu ia dikenal sebagai Syekh Sa’id. Ia dikenal juga sebagai Syekh Malaya.
Setelah beberapa tahun berguru di Pasai dan berdakwah di Malaya, Sunan Kalijaga kembali ke Tanah Jawa. Ia kemudian diangkat menjadi anggota Walisanga. Itulah sekelumit kisah perjalan hidup Raden Syahid.
Buku ini sebenarnya bukan untuk bercerita tentang kisah hidup Sunan Kalijaga. Akan tetapi, banyak menyorot aspek lain yang tidak banyak diketahui orang. Yaitu, tentang ajarannya dan kearifannya. Sebuah kearifan yang terkadang kontroversi. Sebuah kearifan yang terkadang dianggap bukan bagian dari Islam untuk mengatakan bid’ah dalam istilah ekstremnya.
Anda akan mengetahui banyak peraktik-praktik agama Islam di Nusantara, khusunya di Tanah Jawa, yang ternyata berasal dari Sunan Kalijaga.
Di antaranya Rumekso Ing Wengi, sebuah doa susunan Sunan Kalijaga dalam bahasa Jawa yang masih diamalkan oleh sebagian orang Islam di Tanah Jawa.
Rumekso Ing Wengi disebut juga sebagai mantra yang memiliki khasiat untuk menolak bala, menyingkirkan penyakit, mengusir hama dan penyakit tanaman. Jika dibaca, juga membebaskan diri dari jeratan hutang, melindungi dari santet, teluh, tenung dan perbuatan jahat lainnya. Bahkan, melindungi diri dalam pertempuran.
Rumekso Ing Wengi boleh jadi tak ditemukan dalam doa-doa yang pernah diajarkan seperti dalam hadits-hadits Nabi. Tetapi, bukankah doa bisa disampaikan dalam bahasa apa saja. Apakah dengan begitu, juga dianggap sebagai bid’ah. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang perlu kearifan untuk menjawabnya.
Gerebeg Maulud dan Sekaten seperti yang biasa digelar di alun-alun Keraton Surakarta dan Jogjakarta, adalah institusi spiritual yang pernah dilakukan Sunan Kalijaga untuk melakukan dakwah dengan pendekatan budaya.
Gerebeg Mulud adalah sebutan peringatan Maulud Nabi. Upacara Sekaten (syahadatain) adalah pengucapan dua kalimat syahadat yang dilakukan setiap tahun untuk mengajak orang Jawa masuk Islam. Itulah sebuah kearifan dari Sunan Kalijaga. Islam pun tumbuh di mana-mana di Bumi Nusantara, hingga dapat kita saksikan seperti sekarang.
Dalam kisah kewalian, Sunan Kalijaga dikenal sebagai orang yang menciptakan ‘pakaian takwa’ dan menciptakan tembang-tembang Jawa. Tembang-tembang yang diciptakan Sunan Kalijaga sebenarnya merupakan ajaran penuh makrifat atau ajaran mengenal sang Pencipta dalam agama Islam.
Salah satu karya Sunan Kalijaga adalah menciptakan bentuk ukiran wayang kulit, dari bentuk manusia menjadi bentuk kreasi baru yang mirip karikatur.
Membaca buku ini, Anda diajak berkelana ke dalam mistik dan makrifat Sunan Kalijaga. Ajaran makrifat dan sangkan paraning dumadi (asal dan kembalinya manusia) yang berupa tembang-tembang.
Di samping masalah-masalah ini, dikupas pula mengenai tradisi selamatan, soal wasilah, reinkarnasi dan ihwal-ihwal lain yang tak kalah kontroversi.
Yang mengasyikan, si penulis, Ahmad Chodjim, mendiskusikan isu-isu berat ini dengan bahasa yang ringan, komunikatif. Sesekali, pembaca seperti diajak ngobrol ke sana dan kemari.
Salah satu tema menarik yang diangkat Ahmad Chodjim adalah pandangan tentang menitis (reinkarnasi). Pandangan ini boleh jadi sangat kontroversi, bertolak belakang dengan pandangan umat Islam kebanyakan.
Pada umumnya, penganut Islam, Kristen maupun Yahudi tidak mempercayai bahwa manusia mengalami siklus hidup dan mati berulang-ulang.
Kelahiran kembali mungkin sulit sekali diterima di Jazirah Arab. Karena, sebelum kedatangan Islam, mereka hidup dalam alam keberhalaan dan tokoh-tokohnya hanya mempercayai hidup sekali dan mati sekali.
Achmad Chodjim dalam buku ini membeber siklus hidup dan mati yang secara implisit terdapat dalam Alquran (2:28). Terjemahan ayat ini: “Mengapa kalian kafir kepada Allah? Padahal, tadinya kalian itu mati, lalu Dia menghidupkan kalian. Kemudian, Dia mematikan kamu, dan dihidupkan-Nya kembali. Baru setelah itu kalian dikembalikan kepada-Nya.”
Chodjim melihat kebanyakan penafsir Alquran menyamakan keadaan mati dengan tidak ada. Tapi, dua kali kata hidup diartikan yang sama. Mereka tidak mengaitkan kehidupan kembali dengan “kembali kepada-Nya.”
Banyak tafsir juga menyebutkan bahwa dihidupkan kembali itu sama dengan bangkit dari kubur. Sedang dikembalikan kepada Tuhan itu diadili untuk masuk surga atau neraka.
Dalam pemahaman Chodjim, jiwa manusia bisa menitis. Ia mengacu kalimat dalam Alquran, “ilayhi raji’un”, yaitu kembali kepada-Nya dan “ilayhi turja’un” dikembalikan kepada-Nya.
Bagaimana dengan manusia kafir yang mati. Menurut pemahaman ini, jiwa manusia kafir yang mati, prosesnya akan dikembalikan lagi. Ada pemaksaan agar bisa kembali, sehingga ‘dikembalikan’ lagi.
Sedang bagi manusia yang beriman, jiwanya “kembali kepada-Nya” dengan riang gembira. Proses kembali dengan kehendak sendiri ini diungkapkan pada QS 2:46, QS 2:156 dan QS 23:60.
Paham siklus hidup dan mati merupakan tema menarik dalam buku ini. Bahkan, tema-tema seperti itu jarang kita dapatkan dalam banyak buku maupun ceramah-ceramah agama.
Achmad Chodjim menempatkan bagian ini pada Bab 12. Juga dibeberkan tentang alam barzakh. Mengapa harus hidup berulang-ulang? Dapatkah jiwa manusia menitis ke binatang?
Sebuah pemahaman yang kontroversi, tetapi menarik untuk direnungkan. Apapun perbedaan pemahaman ini, buku setebal 310 halaman ini menjadi khasanah pengetahuan yang tak bisa diabaikan begitu saja.

One Response to “WALISONGO (SUNAN BONANG)”

  1. Herdoni Wahyono Says:

    Sas efharisto ! infonya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: