Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
This entry was posted on September 29, 2007 at 11:07 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
Sang Surya masih sembunyi di ufuk Timur, merangkak menuju ke Barat, jika “jumedul” akan menerangi jagad raya, nata manusia yg sedang berjalan di jalan gelap, agar mendapat penerangan yang sempurna.
Luar biasa ulasan teman-teman tentang ramalan Jayabaya. sy ikutan yah…………… Prediksi sy ttg ramalan Prabu Jayabaya pada th 2008 ini tlh menjadi kenyataan kembali (mudah2an prediksi ini salah), mungkin bkaitan dgn anak sy, Eko Surya Winata Minal Ashaqul Ashaq Sufi Tarekatullah Sajatina Ning Islam (nm Minal Ashaqul Ashaq …. didapat pd waktu malam lailatur qodar), kls III SMA, penganut Torekot QN, insyaallah sdh maqom Marifat Mukasyafah dan sangat tawadhu (tetangga atau teman2 sebaya di sekolah, tdk ada yg tahu jk mpunyai kelebihan/tsembunyi). Ia lah pemilik/pemegang pusaka yg baru muncul th 2008 ini di sungai Banyuwangi, yang telah menerangkan kpd sy.
Anak sy pernah buka rahasia, cara tanggulangi bencana luapan lumpur Lapindo, caranya ilmiah & nyata, dibuat waduk/tanggul untuk menampung genangan lumpur Lapindo, kemudian waduk/tanggul tsb agar diisi dengan air laut, dengan perbandingan 1 : 3 (1 lumpur, 3 air laut), jika ini dilakukan insyaallah semburan lumpur akan berhenti.
Mungkin prediksi sy ttg ramalan Prabu Jayabaya ini, keliru & beda dgn orang lain, analisanya dimulai pd bait 159, pd tahun 2008 ini (“selelet-leletnya mbesuk tutup tahun sinungkalan dewa wolu…. bakal ana dewa ngejawantah….”) telah hadir di tengah2 kt mengejawantah di bumi nusantara berupa Dewa atau Putra Bhatara Indra, sosok tsb tempat munculnya didaerah Banyuwangi, spt yg tlh diramalkan pd bait 161 “bengawan banyu”. Tempat munculnya (Banyuwangi) bkn scr kebetulan, daerah tsb dahulu adalah tempat btemu & bpisah Prabu Brawijaya V (Sunan Lawu) dgn Sabdopalon & Noyogenggong disaksikan Sunan Kalijaga. Sang Prabu Brawijaya V tlh menandai tempat tsb sbg di tanda Sabdopalon & Noyogenggong akan datang lagi “nanti jk ada org Jawa bersenjatakan kaweruh yaitu yg akan diasuh Sabdopalon, org Jawan akan diberi petunjuk ttg benar salah”.
Maka sbg tanda tempat/daerah tsb oleh Prabu Brawijaya V disaksikan Sunan Kalijaga, dirubah nmnya yg dulunya Blambangan menjadi Banyuwangi menjadikan tanda Sabdopalon & Noyogenggong pulang kembali ke tanah Jawa membawa momongannya.
Siapakah yg dimaksud dgn Dewa/Putra Bhatara Indara pd bait 160? kemudian bait 161: Rumahnya spt Raden Gatutkaca (“andhedukuh pindha Raden Gatutkaca”). Pada bait 160 kita diminta untuk menelusuri, siapa Raden Gatutkaca sehingga dikatakan sebagai Rumah?
Untuk mjawabnya mk simak kembali cerita wayang Gugurnya Raden Gatutkaca oleh senjata Kunta milik Karno. Diceritakan, walau Raden Gatutkaca lari menghindar dari kejaran senjata Kunta, bahkan sampai lapis langit tujuh sekalipun, tetap saja senjata Kunta mengjarnya dan … Raden Gatutkaca tidak bisa menghindar. Kenapa? hal ini disebabkan Raden Gatutkaca adalah sebagai Rumah/sarang-nya senjata tersebut (di pusernya bersemayam warangka/sarung/rumahnya).
Dari uraian tersebut, teka-teki bait 159, 160 dan 161 diperoleh jawaban sementara, bahwa Dewa atau Putra Bhatara Indra rumahnya seperti Raden Gatutkaca adalah sebuah Pusaka berwujud KERIS?
Mari kita buktikan, bait 164 & 168 telah menjelaskan ttg ciri2 pusaka tsb, dikaitkan dgn bait 159, 160 dan 161.
Setelah kita membaca petunjuk bait 164 & 168, disimpulkan (1) Putra kesayangan Sunan Lawu, (2) ya Kyai Brajamusthi, ya Kresna ya Herumurthi. (3) Trisula pucuknya sangat tajam membawa maut atau utang nyawa; yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain; yang pinggir-pinggir menolak pencurian. (4) Tajamnya tritunggal nan suci: bener, lurus, jujur (5) didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong.
Kesimpulan, sosok Dewa atau Putra Bhatara Indra yg sdh mengejawantah di tahun 2008 ini adalah berupa Pusaka Keris pegangan Satrio Piningit, telah ditemukan di Banyuwangi oleh Bocah Angon Kerbau di sungai mati pada bulan Maret 2008, kemudian diterima anak sy bulan Mei 2008.
Pendapat ini dibenarkan oleh Sunan Lawu (hasil kontak bathin dgn beliau). Menurut beliau, ya itulah satu-satunya Putra kinasih (klangenan), mempunyai ciri2 pokok, di dlm pusaka bersemayam 3 warna nur/sifat/cahaya makluk, spt halnya manusia bersemayam 4 warna nur/cahaya makhluk (bait 159 “ana Dewa ngejawantah apengawak manungsa”).Menurut anak sy 3 warna nur tsb adlh Merah, Biru, Hijau, ya Kyai Brajamusthi, ya Kresna ya Herumurthi (baik 164 “Putra kinasih swargi Sunan Lawu, ya Kyai Brajamusthi, ya Kresna ya Herumurthi”), bersifat yg suci; bener, lurus/jejeg, jujur (“landepe triniji suci, bener, jejeg, jujur”).
Kemudian pd bait 168 dijelaskan scr jelas spesifikasi fisik pusaka tsb, digambarkan tajemnya : Pucuk/ujungnya gawe pati atau hutang nyawa, yg tengah pantang berbuat merugikan orang lain, yang pinggir-pinggir menolak pencurian dan kejahatan (“landepe trisula, pucuk arupa gegawesirik agawe pati utawa utang nyawa. Sing tengah sirik agawe kapitunaning liyan, sing pinggir-pinggir tulak tolak colong jupuk winaleran”).
Kemudian spesifikasi yg lain, diterangkan pd bait 164, di pangkal pusaka tsb ada gambar/lambang Pohon Beringin, di bawahnya terdapat 2 (dua) orang bocah di kiri dan kanan sbag Sabdopalon & Noyogenggong yg dipisahkan oleh gambar/pamor spt rumah Merpati susun tiga (bait 161 “arupo pagupon Dara tundha tiga”).
Menurut hasil dialog dgn leluhur sy, Pangeran Diponegoro (Sultan Eracakra) jumlah pusaka jenis spt ini jumlahnya ada 27 buah (1 peti), eyang sy pernah mencari untuk perjuangan melawan penjajah ttp tidak menemukannya. menurutnya dari jumlah tsb, hanya satu ini yg bersemayam 3 nur. Pusaka ini adalah andalah kerajaan besar Sriwijaya dan Majapahit, pemiliknya adalah Satrio Piningit.
Kemudian, menurut Sunan Lawu, salah satu faktor penyebab kenapa pusaka ini dikatakan sbg pusaka (putra) kesayangan (kinasih)nya adalah karena mengandung makna filosofis, sejarah dan daya tuah yg luar biasa (sbg pusaka andalan Satrio Piningit) yang terpahat dalam lambang-lambang/pamor timbul.
Lambang Pohon Beringin (menurut Eyang Sunan Lawu) bermakna filosofis & sejarah menggambarkan menanam pohon bersama (Majapahit dan Sunda/Pajajaran yang diibaratkan sbg satu pohon) yang akhirnya berpisah. Sedangkan Majapahit & Pajajaran dipahatkan pd lambang 2 (dua) orang bocah kecil yang terletak di kiri dan kanan sebagai Sabdopalon dan Noyogenggong.
Sabdopalon diibaratkan bagai sebuah petuah orang tua kpd anak-cucunya. Petuah & janji ditujukan kpd Raden Wijaya sbg pendiri Majapahit (masih keturunan darah Sunda/Pajajaran). Raden Wijaya mendapat wejangan/nasehat dan sumpah, kelak jika nanti negaranya menjadi negara yg besar dan luas wilayahnya, janganlah sekali-sekali menyerang Sunda/Pajajaran karena Sunda/Pajajaran masih saudara sendiri, dan janji/sumpah tsb oleh Raden Wijaya telah disanggupi.
Kerajaan Majapahit pd masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk mcapai jaman keemasan dgn wilayah jangkauan kekuasaan sangat luas. Didorong oleh ambisi Maha Patih Gajahmada untuk mpersatukan nusantara, menganggap belum lengkap jika Sunda belum ditaklukan, maka terjadilah peristiwa Perang Bubad. Atas peristiwa tsb berarti Raden Wijaya dan keturunannya telah melanggar sumpah dan nasehat kakeknya. Akibat pelanggaran tsb, selepas wafatnya raja Hayam Wuruk kejayaan Majapahit berangsur-angsur memudar, dan ….. karma / bebendu tanah Jawa berlangsung, petaka/bencana datang silih berganti, perubahan kearah kebejatan moral/jaman edan terjadi, jaman berubah menjadi jaman kalabendu Jawa. Manusia sengsara melihat perilaku penyimpangan dari fitrak manusia yg sesungguhnya.
Jika masyarakat luas Indonesia perbuatannya masih tidak suci; artinya perbuatannya tidak benar, lurus/jejeg dan jujur, maka telah merusak tatanan kerukunan/kebersamaan dalam dan keseimbangan alam pun ikut terganggu. Bentuk penyimpangan2 yg terjadi karena pengaruh kalabendu Jawa, dalam Kitab Musarar Jayabaya spt :
1. Sungguh zaman gonjang-ganjing menyaksikan zaman edan tidak ikut edan maka tidak kebagian, yang sehat pada oleh pikir, para petani dibelenggu, para pembohong bersuka ria (bait 142).
2. Raja tdk menempati janji, orang makan sesamanya, kayu glondongan dan besi juga dimakan katanya enak rasa kue bolu, malam hari semua tidak bisa tidur (bait 143).
3. Yang gila dapat berdandan, yang membangkang semua dapat membangun rumah, gedung-gedung megah (bait 144).
4. Orang berdagang barang makin laris tp hartanya makin habis, banyak orang mati kelaparan disamping makanan, banyak orang berharta namun hidupnya sengsara (bait 145).
5. Org waras & adil hidupnya memprihatinkan & terkucil, yg tidak dapat mencuri dibendi, yang pintar curang jadi teman, orang jujur semakin tak berkutik, orang salah makin pongah, banyak harta musnah tak jelas larinya, banyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab (bait 146).
6. Bumi semakin lama semakin sempit, sejengkal tanah kena pajak, wanita memakai pakaian laki-laki (bait 147).
Akibat dari perilaku penyimpangan manusia di atas, berpengaruh pd kesimbangan alam spt banjir badang dimana-mana, gunung meletus tidak dinyana-nyana (bait 141), datang jaman penuh bencana di nusantara spt tanah pecah merekah, gempa 7 kali sehari dan bencana macam-macam, hujan salah musim.
Jaman edan akan berakhir, Sabdopalon yg termasyur dan menanggung malu, akan tampil kembali untuk membantu nusantara agar bermoral benar, lurus dan jujur (trisula wedha) dengan ditandai munculnya putra kinasih swargi Sunan Lawu atau Putra Bhatara Indra yg sulung.
Sudah janjinya Sabdopalon dan Noyogenggong, jika tuntutan perubahan moral/budhi tidak dipenuhi maka konsekwensinya adalah banyak orang digigit nyamuk mati, digigit semut mati, banyak suara aneh tanpa rupa, pasukan makluk halus sama-sama berbaris berebut garis yg benar tak kelihatan tak berbentuk yg memimpin Putra Bhatara Indra, bersenjatakan trisula weda, para asuhannya menjadi perwira perang, jika berperang tanpa pasukan sakti mandraguna tanpa aji-aji (bait 162) dan yang membantah pasti mati (bait 166).
Sebaliknya jika tatanan moral masyarakat sdah berubah total bermoral/akhlak benar, lurus dan jujur (trisula wheda) sebagaimna yg tlh diemong/diwejang oleh Sabdopalon, insyaallah akan terwujud jaman kemakmuran dan Indonesia akan menjadi negara mercusuar dunia, harta berlimpah muncul dimana-mana, sandang, pangan dan papan murah, dan perubahan jaman (wolak waliknya jaman) dari jaman Kalabendu ke jaman Kalisuba dimulai awal bulan Suro tahun ini, yg hampir bertepatan dg tahun baru Masehi sbagaimana bait 165 : “pendak Suro sambutlah kumoro, yg sudah tampak menebus dosa dihadapan sang Maha Kuasa”.
Bentuk ritual yg dahulu dilakukan (pd jaman Majapahit) terbacaa/terekam di dalam pusaka, dimandikan dgn kembang Melati (melambangkan kesucian), air sungai (melambangkan kehidupan yg terus berjalan) dan watu kali (melambangkan kekokohan). Sedangkan kunci untuk menghidupkan cakra dengan surah Az Azariat, Al-Iklas, Al-Fatiah dan Salawat. Pusaka tsb sudah bisa berdiri dan dpt berbicara (ttp tdk kelihatan wajah yg berbicara krn ghaib). Insyaallah pusaka ini akan sy pakai untuk mengentaskan kemiskinan krn pusaka itu adalah kunci D (“Duit”), ada tamu datang dari jauh ke rmh, sy lagi kerja di kantor, tamu tsb dibisiki oleh suara tanpa rupa agar menyediakan rokok merk Dunhil, rokok Jarum D dan buah Delima (kunci 3 D).
Karena daya tuahnya luar biasa maka tdk semua orang kuat memegang pusaka ini, hanya orang yg sudah maqom makhrifat mukasyafah dan trah dari Pangeran Diponegoro dan Sunan Lawu yang sanggup dan dipilih. Menjelang bulan puasa (1 minggu sebelum Idul Fitri) telah menjadi korban dilempar & muntah darah karena berani menghidupkan pusaka ini tanpa ijin. Bisikan pusaka, nanti akan datang 2 (dua) orang anak sebaya Eko Surya Winata Minal Ashaqul Ashaq menyatu, arahnya dari Gunung Tangkuban Perahu (dari generasi Priyangan) dan dari Cirebon dari kasang laut (pinggir laut). 3 orang inilah tokoh inin yg dinanti-nantikan. Sedangkan presiden nanti yg terpilih hanya ikut menata harta karun, selanjutnya harus mereka. Diistilahkan nata, niti, noto.
Menurut beberapa pinisepuh, diramalkan pancernya nur satrio piningit itu daerahnya sekitar Kebumen – Karangannyar, kemudian ada yg bilang Sumpyuh. Sedangkan sy sendiri orang Gombong (desa Semanding – Karangmaja), yg jelas darah keturunan Era Cakra, dan bisa berdialog dgn para leluhur, maqom Makhrifat Mukasyafah dan pemegang pusaka yg baru muncul di Sungai Banyuwangi.
Karena Kitab Musarar Jayabaya telah menjadi bacaan masyarakat luas, untuk menghindari fitnah akan ramalan (lebih condong tuntunan) hasil karya leluhur tsb, maka sudah sy kirim naskah ke majalah Posmo, minggu pertama bulan November 2008 telah dimuat bersambung, minggu ke dua dan ketiga (silahkan baca). Jika sudah disiarkan maka tugas sy pertama selesai, tugas kedua, ketiga menyusul. Sy ingin mengajak para pinisepuh yg waskita marilah kita menyatu, singsingkan lengan baju, bantu bangsa Indonesia keluar dari keterpurukan ekonomi.Siapapun tidak boleh ada rasa memimiliki harta nusantara karena ini untuk kemaslahatan umat, dan harta tsb racun, hati bengkok, tidak benar, jujur dan eling marang kang Moho Kuasa maka reksikonya mati, ini kebahagiaan bagi anak cucu yang akan menikmati (mudah-mudahan menjadi kenyataan, amiin), dan perlu diingat menurut ramalan Jayabaya, dunia ini sudah tua, tinggal 3 jaman lagi kiamat kubro, masing-masing harus mawas diri, jangan merasa paling pintar, paling waskita, sudah bukan jamannya lagi berlaku spt itu, jaman akan berubah pd tatanan moral yg baik.
Disamping pusaka tersebut mengandung sejarah, pusaka kesayangan Sunan Lawu ini juga :
1. Menguasai seluruh ajaran (ngelmu) bait 164.
2. Mampu memberikan perintah&mengerahkan jin, seta, kumara, prewangan dan para lelembut untuk bersatu padu membantu masyarakat Indonesia (bait 164).
3. Bergelar pangeran perang, dapat mengatasi keruwetan orang banyak (bait 163).
4. Setiap bulan suro nguntapake kumara (bait 165).
5. Ludahnya ludah api, sabdanya sakti (terbukti) yg membantah pasti mati, orang tua, muda maupun bayi, orang yg tidakberdaya minta apa saja pasti terpenuhi, garis sabdanya tidak akan lama (bait 166).
6. Pandai meramal spt dewa, dpt mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda, tidak bisa ditipu krn dpt membaca isi hati, bijak, cermat dan sakti, mengerti sebelum sesuatu terjadi, mengerti garis hidup setiap umat tidak khawatir tertelan zaman (bait 167).
7. Sudah lulus wedha Jawa (bait 168).
Demikianlah prediksi sy ttg bait-bait terakhir ramalan Jayabaya, prediksi ini belum tentu benar, maksud sy hanya sekedar mengingatkan di tahun depan agar masing-masing mawas diri berebut jalan yg benar.
Mungkin ada yg meremehkan “ojo gumun” sebuah pusaka dikatakan dapat mengatasi masalah? simak Surah Al-Hadid 25.
Demikian, mohon maaf jika prediksi sy sangat ngawur dan bertentangan dengan pendapat/prediksi orang kebanyakan.
September 29, 2007 at 11:07 am |
Hi, this is a comment.
To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.
November 23, 2008 at 4:56 am |
Assalamualaikum wr. wb.
Salam jumpa, salam kenal
Sang Surya masih sembunyi di ufuk Timur, merangkak menuju ke Barat, jika “jumedul” akan menerangi jagad raya, nata manusia yg sedang berjalan di jalan gelap, agar mendapat penerangan yang sempurna.
Luar biasa ulasan teman-teman tentang ramalan Jayabaya. sy ikutan yah…………… Prediksi sy ttg ramalan Prabu Jayabaya pada th 2008 ini tlh menjadi kenyataan kembali (mudah2an prediksi ini salah), mungkin bkaitan dgn anak sy, Eko Surya Winata Minal Ashaqul Ashaq Sufi Tarekatullah Sajatina Ning Islam (nm Minal Ashaqul Ashaq …. didapat pd waktu malam lailatur qodar), kls III SMA, penganut Torekot QN, insyaallah sdh maqom Marifat Mukasyafah dan sangat tawadhu (tetangga atau teman2 sebaya di sekolah, tdk ada yg tahu jk mpunyai kelebihan/tsembunyi). Ia lah pemilik/pemegang pusaka yg baru muncul th 2008 ini di sungai Banyuwangi, yang telah menerangkan kpd sy.
Anak sy pernah buka rahasia, cara tanggulangi bencana luapan lumpur Lapindo, caranya ilmiah & nyata, dibuat waduk/tanggul untuk menampung genangan lumpur Lapindo, kemudian waduk/tanggul tsb agar diisi dengan air laut, dengan perbandingan 1 : 3 (1 lumpur, 3 air laut), jika ini dilakukan insyaallah semburan lumpur akan berhenti.
Mungkin prediksi sy ttg ramalan Prabu Jayabaya ini, keliru & beda dgn orang lain, analisanya dimulai pd bait 159, pd tahun 2008 ini (“selelet-leletnya mbesuk tutup tahun sinungkalan dewa wolu…. bakal ana dewa ngejawantah….”) telah hadir di tengah2 kt mengejawantah di bumi nusantara berupa Dewa atau Putra Bhatara Indra, sosok tsb tempat munculnya didaerah Banyuwangi, spt yg tlh diramalkan pd bait 161 “bengawan banyu”. Tempat munculnya (Banyuwangi) bkn scr kebetulan, daerah tsb dahulu adalah tempat btemu & bpisah Prabu Brawijaya V (Sunan Lawu) dgn Sabdopalon & Noyogenggong disaksikan Sunan Kalijaga. Sang Prabu Brawijaya V tlh menandai tempat tsb sbg di tanda Sabdopalon & Noyogenggong akan datang lagi “nanti jk ada org Jawa bersenjatakan kaweruh yaitu yg akan diasuh Sabdopalon, org Jawan akan diberi petunjuk ttg benar salah”.
Maka sbg tanda tempat/daerah tsb oleh Prabu Brawijaya V disaksikan Sunan Kalijaga, dirubah nmnya yg dulunya Blambangan menjadi Banyuwangi menjadikan tanda Sabdopalon & Noyogenggong pulang kembali ke tanah Jawa membawa momongannya.
Siapakah yg dimaksud dgn Dewa/Putra Bhatara Indara pd bait 160? kemudian bait 161: Rumahnya spt Raden Gatutkaca (“andhedukuh pindha Raden Gatutkaca”). Pada bait 160 kita diminta untuk menelusuri, siapa Raden Gatutkaca sehingga dikatakan sebagai Rumah?
Untuk mjawabnya mk simak kembali cerita wayang Gugurnya Raden Gatutkaca oleh senjata Kunta milik Karno. Diceritakan, walau Raden Gatutkaca lari menghindar dari kejaran senjata Kunta, bahkan sampai lapis langit tujuh sekalipun, tetap saja senjata Kunta mengjarnya dan … Raden Gatutkaca tidak bisa menghindar. Kenapa? hal ini disebabkan Raden Gatutkaca adalah sebagai Rumah/sarang-nya senjata tersebut (di pusernya bersemayam warangka/sarung/rumahnya).
Dari uraian tersebut, teka-teki bait 159, 160 dan 161 diperoleh jawaban sementara, bahwa Dewa atau Putra Bhatara Indra rumahnya seperti Raden Gatutkaca adalah sebuah Pusaka berwujud KERIS?
Mari kita buktikan, bait 164 & 168 telah menjelaskan ttg ciri2 pusaka tsb, dikaitkan dgn bait 159, 160 dan 161.
Setelah kita membaca petunjuk bait 164 & 168, disimpulkan (1) Putra kesayangan Sunan Lawu, (2) ya Kyai Brajamusthi, ya Kresna ya Herumurthi. (3) Trisula pucuknya sangat tajam membawa maut atau utang nyawa; yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain; yang pinggir-pinggir menolak pencurian. (4) Tajamnya tritunggal nan suci: bener, lurus, jujur (5) didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong.
Kesimpulan, sosok Dewa atau Putra Bhatara Indra yg sdh mengejawantah di tahun 2008 ini adalah berupa Pusaka Keris pegangan Satrio Piningit, telah ditemukan di Banyuwangi oleh Bocah Angon Kerbau di sungai mati pada bulan Maret 2008, kemudian diterima anak sy bulan Mei 2008.
Pendapat ini dibenarkan oleh Sunan Lawu (hasil kontak bathin dgn beliau). Menurut beliau, ya itulah satu-satunya Putra kinasih (klangenan), mempunyai ciri2 pokok, di dlm pusaka bersemayam 3 warna nur/sifat/cahaya makluk, spt halnya manusia bersemayam 4 warna nur/cahaya makhluk (bait 159 “ana Dewa ngejawantah apengawak manungsa”).Menurut anak sy 3 warna nur tsb adlh Merah, Biru, Hijau, ya Kyai Brajamusthi, ya Kresna ya Herumurthi (baik 164 “Putra kinasih swargi Sunan Lawu, ya Kyai Brajamusthi, ya Kresna ya Herumurthi”), bersifat yg suci; bener, lurus/jejeg, jujur (“landepe triniji suci, bener, jejeg, jujur”).
Kemudian pd bait 168 dijelaskan scr jelas spesifikasi fisik pusaka tsb, digambarkan tajemnya : Pucuk/ujungnya gawe pati atau hutang nyawa, yg tengah pantang berbuat merugikan orang lain, yang pinggir-pinggir menolak pencurian dan kejahatan (“landepe trisula, pucuk arupa gegawesirik agawe pati utawa utang nyawa. Sing tengah sirik agawe kapitunaning liyan, sing pinggir-pinggir tulak tolak colong jupuk winaleran”).
Kemudian spesifikasi yg lain, diterangkan pd bait 164, di pangkal pusaka tsb ada gambar/lambang Pohon Beringin, di bawahnya terdapat 2 (dua) orang bocah di kiri dan kanan sbag Sabdopalon & Noyogenggong yg dipisahkan oleh gambar/pamor spt rumah Merpati susun tiga (bait 161 “arupo pagupon Dara tundha tiga”).
Menurut hasil dialog dgn leluhur sy, Pangeran Diponegoro (Sultan Eracakra) jumlah pusaka jenis spt ini jumlahnya ada 27 buah (1 peti), eyang sy pernah mencari untuk perjuangan melawan penjajah ttp tidak menemukannya. menurutnya dari jumlah tsb, hanya satu ini yg bersemayam 3 nur. Pusaka ini adalah andalah kerajaan besar Sriwijaya dan Majapahit, pemiliknya adalah Satrio Piningit.
Kemudian, menurut Sunan Lawu, salah satu faktor penyebab kenapa pusaka ini dikatakan sbg pusaka (putra) kesayangan (kinasih)nya adalah karena mengandung makna filosofis, sejarah dan daya tuah yg luar biasa (sbg pusaka andalan Satrio Piningit) yang terpahat dalam lambang-lambang/pamor timbul.
Lambang Pohon Beringin (menurut Eyang Sunan Lawu) bermakna filosofis & sejarah menggambarkan menanam pohon bersama (Majapahit dan Sunda/Pajajaran yang diibaratkan sbg satu pohon) yang akhirnya berpisah. Sedangkan Majapahit & Pajajaran dipahatkan pd lambang 2 (dua) orang bocah kecil yang terletak di kiri dan kanan sebagai Sabdopalon dan Noyogenggong.
Sabdopalon diibaratkan bagai sebuah petuah orang tua kpd anak-cucunya. Petuah & janji ditujukan kpd Raden Wijaya sbg pendiri Majapahit (masih keturunan darah Sunda/Pajajaran). Raden Wijaya mendapat wejangan/nasehat dan sumpah, kelak jika nanti negaranya menjadi negara yg besar dan luas wilayahnya, janganlah sekali-sekali menyerang Sunda/Pajajaran karena Sunda/Pajajaran masih saudara sendiri, dan janji/sumpah tsb oleh Raden Wijaya telah disanggupi.
Kerajaan Majapahit pd masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk mcapai jaman keemasan dgn wilayah jangkauan kekuasaan sangat luas. Didorong oleh ambisi Maha Patih Gajahmada untuk mpersatukan nusantara, menganggap belum lengkap jika Sunda belum ditaklukan, maka terjadilah peristiwa Perang Bubad. Atas peristiwa tsb berarti Raden Wijaya dan keturunannya telah melanggar sumpah dan nasehat kakeknya. Akibat pelanggaran tsb, selepas wafatnya raja Hayam Wuruk kejayaan Majapahit berangsur-angsur memudar, dan ….. karma / bebendu tanah Jawa berlangsung, petaka/bencana datang silih berganti, perubahan kearah kebejatan moral/jaman edan terjadi, jaman berubah menjadi jaman kalabendu Jawa. Manusia sengsara melihat perilaku penyimpangan dari fitrak manusia yg sesungguhnya.
Jika masyarakat luas Indonesia perbuatannya masih tidak suci; artinya perbuatannya tidak benar, lurus/jejeg dan jujur, maka telah merusak tatanan kerukunan/kebersamaan dalam dan keseimbangan alam pun ikut terganggu. Bentuk penyimpangan2 yg terjadi karena pengaruh kalabendu Jawa, dalam Kitab Musarar Jayabaya spt :
1. Sungguh zaman gonjang-ganjing menyaksikan zaman edan tidak ikut edan maka tidak kebagian, yang sehat pada oleh pikir, para petani dibelenggu, para pembohong bersuka ria (bait 142).
2. Raja tdk menempati janji, orang makan sesamanya, kayu glondongan dan besi juga dimakan katanya enak rasa kue bolu, malam hari semua tidak bisa tidur (bait 143).
3. Yang gila dapat berdandan, yang membangkang semua dapat membangun rumah, gedung-gedung megah (bait 144).
4. Orang berdagang barang makin laris tp hartanya makin habis, banyak orang mati kelaparan disamping makanan, banyak orang berharta namun hidupnya sengsara (bait 145).
5. Org waras & adil hidupnya memprihatinkan & terkucil, yg tidak dapat mencuri dibendi, yang pintar curang jadi teman, orang jujur semakin tak berkutik, orang salah makin pongah, banyak harta musnah tak jelas larinya, banyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab (bait 146).
6. Bumi semakin lama semakin sempit, sejengkal tanah kena pajak, wanita memakai pakaian laki-laki (bait 147).
Akibat dari perilaku penyimpangan manusia di atas, berpengaruh pd kesimbangan alam spt banjir badang dimana-mana, gunung meletus tidak dinyana-nyana (bait 141), datang jaman penuh bencana di nusantara spt tanah pecah merekah, gempa 7 kali sehari dan bencana macam-macam, hujan salah musim.
Jaman edan akan berakhir, Sabdopalon yg termasyur dan menanggung malu, akan tampil kembali untuk membantu nusantara agar bermoral benar, lurus dan jujur (trisula wedha) dengan ditandai munculnya putra kinasih swargi Sunan Lawu atau Putra Bhatara Indra yg sulung.
Sudah janjinya Sabdopalon dan Noyogenggong, jika tuntutan perubahan moral/budhi tidak dipenuhi maka konsekwensinya adalah banyak orang digigit nyamuk mati, digigit semut mati, banyak suara aneh tanpa rupa, pasukan makluk halus sama-sama berbaris berebut garis yg benar tak kelihatan tak berbentuk yg memimpin Putra Bhatara Indra, bersenjatakan trisula weda, para asuhannya menjadi perwira perang, jika berperang tanpa pasukan sakti mandraguna tanpa aji-aji (bait 162) dan yang membantah pasti mati (bait 166).
Sebaliknya jika tatanan moral masyarakat sdah berubah total bermoral/akhlak benar, lurus dan jujur (trisula wheda) sebagaimna yg tlh diemong/diwejang oleh Sabdopalon, insyaallah akan terwujud jaman kemakmuran dan Indonesia akan menjadi negara mercusuar dunia, harta berlimpah muncul dimana-mana, sandang, pangan dan papan murah, dan perubahan jaman (wolak waliknya jaman) dari jaman Kalabendu ke jaman Kalisuba dimulai awal bulan Suro tahun ini, yg hampir bertepatan dg tahun baru Masehi sbagaimana bait 165 : “pendak Suro sambutlah kumoro, yg sudah tampak menebus dosa dihadapan sang Maha Kuasa”.
Bentuk ritual yg dahulu dilakukan (pd jaman Majapahit) terbacaa/terekam di dalam pusaka, dimandikan dgn kembang Melati (melambangkan kesucian), air sungai (melambangkan kehidupan yg terus berjalan) dan watu kali (melambangkan kekokohan). Sedangkan kunci untuk menghidupkan cakra dengan surah Az Azariat, Al-Iklas, Al-Fatiah dan Salawat. Pusaka tsb sudah bisa berdiri dan dpt berbicara (ttp tdk kelihatan wajah yg berbicara krn ghaib). Insyaallah pusaka ini akan sy pakai untuk mengentaskan kemiskinan krn pusaka itu adalah kunci D (“Duit”), ada tamu datang dari jauh ke rmh, sy lagi kerja di kantor, tamu tsb dibisiki oleh suara tanpa rupa agar menyediakan rokok merk Dunhil, rokok Jarum D dan buah Delima (kunci 3 D).
Karena daya tuahnya luar biasa maka tdk semua orang kuat memegang pusaka ini, hanya orang yg sudah maqom makhrifat mukasyafah dan trah dari Pangeran Diponegoro dan Sunan Lawu yang sanggup dan dipilih. Menjelang bulan puasa (1 minggu sebelum Idul Fitri) telah menjadi korban dilempar & muntah darah karena berani menghidupkan pusaka ini tanpa ijin. Bisikan pusaka, nanti akan datang 2 (dua) orang anak sebaya Eko Surya Winata Minal Ashaqul Ashaq menyatu, arahnya dari Gunung Tangkuban Perahu (dari generasi Priyangan) dan dari Cirebon dari kasang laut (pinggir laut). 3 orang inilah tokoh inin yg dinanti-nantikan. Sedangkan presiden nanti yg terpilih hanya ikut menata harta karun, selanjutnya harus mereka. Diistilahkan nata, niti, noto.
Menurut beberapa pinisepuh, diramalkan pancernya nur satrio piningit itu daerahnya sekitar Kebumen – Karangannyar, kemudian ada yg bilang Sumpyuh. Sedangkan sy sendiri orang Gombong (desa Semanding – Karangmaja), yg jelas darah keturunan Era Cakra, dan bisa berdialog dgn para leluhur, maqom Makhrifat Mukasyafah dan pemegang pusaka yg baru muncul di Sungai Banyuwangi.
Karena Kitab Musarar Jayabaya telah menjadi bacaan masyarakat luas, untuk menghindari fitnah akan ramalan (lebih condong tuntunan) hasil karya leluhur tsb, maka sudah sy kirim naskah ke majalah Posmo, minggu pertama bulan November 2008 telah dimuat bersambung, minggu ke dua dan ketiga (silahkan baca). Jika sudah disiarkan maka tugas sy pertama selesai, tugas kedua, ketiga menyusul. Sy ingin mengajak para pinisepuh yg waskita marilah kita menyatu, singsingkan lengan baju, bantu bangsa Indonesia keluar dari keterpurukan ekonomi.Siapapun tidak boleh ada rasa memimiliki harta nusantara karena ini untuk kemaslahatan umat, dan harta tsb racun, hati bengkok, tidak benar, jujur dan eling marang kang Moho Kuasa maka reksikonya mati, ini kebahagiaan bagi anak cucu yang akan menikmati (mudah-mudahan menjadi kenyataan, amiin), dan perlu diingat menurut ramalan Jayabaya, dunia ini sudah tua, tinggal 3 jaman lagi kiamat kubro, masing-masing harus mawas diri, jangan merasa paling pintar, paling waskita, sudah bukan jamannya lagi berlaku spt itu, jaman akan berubah pd tatanan moral yg baik.
Disamping pusaka tersebut mengandung sejarah, pusaka kesayangan Sunan Lawu ini juga :
1. Menguasai seluruh ajaran (ngelmu) bait 164.
2. Mampu memberikan perintah&mengerahkan jin, seta, kumara, prewangan dan para lelembut untuk bersatu padu membantu masyarakat Indonesia (bait 164).
3. Bergelar pangeran perang, dapat mengatasi keruwetan orang banyak (bait 163).
4. Setiap bulan suro nguntapake kumara (bait 165).
5. Ludahnya ludah api, sabdanya sakti (terbukti) yg membantah pasti mati, orang tua, muda maupun bayi, orang yg tidakberdaya minta apa saja pasti terpenuhi, garis sabdanya tidak akan lama (bait 166).
6. Pandai meramal spt dewa, dpt mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda, tidak bisa ditipu krn dpt membaca isi hati, bijak, cermat dan sakti, mengerti sebelum sesuatu terjadi, mengerti garis hidup setiap umat tidak khawatir tertelan zaman (bait 167).
7. Sudah lulus wedha Jawa (bait 168).
Demikianlah prediksi sy ttg bait-bait terakhir ramalan Jayabaya, prediksi ini belum tentu benar, maksud sy hanya sekedar mengingatkan di tahun depan agar masing-masing mawas diri berebut jalan yg benar.
Mungkin ada yg meremehkan “ojo gumun” sebuah pusaka dikatakan dapat mengatasi masalah? simak Surah Al-Hadid 25.
Demikian, mohon maaf jika prediksi sy sangat ngawur dan bertentangan dengan pendapat/prediksi orang kebanyakan.
Raden Kuswanto
kus_kus867@yahoo.co.id